Win a iPad 2 by submitting your assignments.

Click to find S2S Community (Student2Student )Facebook page

The S2S Community is giving YOU the chance to win a iPad 2 by contributing 5 or more of their own assignments onto the Student2Student Community.

In less than 2 minutes, YOU can get some serious value out of those finished essays that now lay abandoned on your computer as you walk away with a brand new iPad 2!

Remember – The essays on the Student2Student Community are protected against plagiarism and are used by members as guides only!

Not a member? To go into the draw to win a brand new iPad 2, simply enter your details and upload your own assignments onto the S2S Community Database.

The more you upload, the greater your chance of winning!

Competition ends Midnight 30th June 2012

Please go to http://www.s2scommunity.com.au/student-upload to enter the competition.

Advertisements

Satu dekade yang lalu

Saya adalah seorang pemuda yang sudah menghirup nafas dari 20 tahun silam.Saat ini saya bekerja sebagai karyawan di sebuah perusahaan swasta yang mengkokohkan bangunannya di daerah Jakarta Barat. Saya bisa dibilang seorang pemuda yang baru mengenal Tuhan,bagaimana tidak? Sewaktu berseragam putih-biru ,tepatnya kelas III SLTP.Saya mengikuti persiapan sakramen baptis yang diajarkan oleh Suster dari rumah doa Gua da lupe,namun sayang belum ada 1 bulan saya mengundurkan diri dengan alas an mau ujian sekolah.Di tahun berikutnya saya kembali mengikuti persiapan sakramen baptis,yang diajarkan oleh seorang katakese dari St.Anna.Setelah 1 tahun akhirnya saya di baptis di Gereja St.Anna,tepat tanggal 20 April 2000 dan 3 bulan sesudah itu saya menyempurnakan Iman Katholik saya dengan sakramen krisma.

Tetapi setelah menerima sakramen baptis dan krisma,saya merasa bukan semakin dekat dengan Tuhan,bisa dibilang saya meninggalkan Tuhan.Saat itu saya masih berstatus sebagai pelajar sekolah tehnik menengah dikawasan Jakarta.Mungkin karena pergaulan dari teman-teman sekolah,saya mulai meninggalkan seluruh organisasi yang saya ikuti,yang dulunya aktif dibidang olahraga yaitu bulutangkis,mulai saya tinggalkan bahkan pada saat itu saya sudah mulai untuk menghisap rokok ,padahal sebagai atlit bulutangkis saya paling benci melihat orang merokok.Tapi setelah masuk dalam lingkungan pelajar STM,saya sudah menjadi perokok aktif  dan sudah mulai berkelakuan layaknya anak jalanan.Pernah suatu hari saya mendapat 2 undangan,yang pertama yaitu: Undangan rosario mudika  dan yang satunya lagi undangan ulang tahun dari teman semasa SMP.Dari kedua undangan itu yang saya hadiri adalah undangan ulang tahun,padahal saat itu acara ulang tahun diadakan di kawasan kelapa gading dan kebetulan pada hari itu duit  sepersenpun tak ada.Yang ada hanyalah sebuah gitar,akhirnya otak anak jalanan pun keluar,saya bersama teman-teman sekolah ngamen sampai kelapa gading.Padahal kalau teman-teman bandingkan dari 2 undangan ini yang paling mudah adalah undangan rosario,disamping kita dekat dengan Bunda Maria,kita bisa mengenal teman-teman dari mudika lain,tapi saat itu memang yang paling saya takutkan adalah undangan untuk ikut organisasi mudika.Mendingan nongkrong bareng teman-teman! Pikir ku.

Maka tak heran kalau saya terjerumus untuk mrngikuti ajakan dari teman-teman sekolah,minuman beralkohol sudah tak asing lagi buat nemenin waktu nongkrong bahkan begadang sampai pagi.Suatu hari tepatnya tanggal 1 Maret 2002 lalu saya mendapatkan tawaran sesuatu dari teman,yaitu obat-obatan terlarang.Saat itu saya berencana menyelesaikan laporan PKL di perusahaan yang berada di daerah bekasi,lantaran tidak punya uang untuk kesana,akhirnya untuk menenangkan pikiran saya terima tawaran dari teman saya dan meminumnya,1 butir terasa kurang,saya minum 2 masih terasa kurang hingga akhirnya saya terus meminumnya sampai 8 butir.Obat penenang itu bercampur dengan jiwa dan raga saya,akhirnya untuk memenuhi rencana saya kr tempat PKL,saya memeras anak pelajar dari sekolah lain.Apesnya saya dikeroyok dan dalam keadaan tak sadar saya mencoba melawan,5 orang yang mengeroyok saya sampai akhirnya saya ditendang hingga jatuh dari mobil yang saya naiki itu.Darah pun mengalir dari balik baju seragam-ku tapi tidak sederas rasa dendam yang ada di hati-ku.

2 Maret 2002 saya beritahukan kepada teman-teman sekolah saya untuk mencegat pelajar yang mengeroyokku kemarin.Dengan bermodalkan aneka senjata tajam kami menunggunya,akhirnya yang dinanti-nanti pun datang,alhasil tawuran pun tak terelakan,dendam yang menyelimuti-ku saat itu mematahkan rasa takut yang selama ini berada di diri-ku,yang namanya perkelahian itu pasti ada korban dong! Salah satunya saya sendiri termakan oleh dendam ,akhirnya berakhir di UGD.Selama 2 bulan saya terbaring di tempat tidur,tidak sedikit yang menjenguk saya saat itu,salah satunya mudika,perasaan malu,bersalah bercampur menjadi satu.Untuk menunggu kesembuhan saya,waktu yang berjalan itu saya habiskan dengan mendengarkan radio dalam acara request on air.Akhirnya lewat radio saya berkenalan dengan seorang gadis namun sayangnya kita berbeda kepercayaan,tapi kami tetap menjalin hubungan walaupun back street.

Semenjak menjalin hubungan dengan gadis (sebut saja SN) saya benar-benar melupakan gereja,apa lagi setelah orang tua SN menuntut saya untuk mengikuti ajaran agamanya.Namun saya menolak dengan halus,tapi orang tua Sn bersikeras untuk mencoba memisahkan kita.Akhirnya waktu pun yang menjawab karena setelah lulus sekolah saya diajak oleh paman untuk membantu usahanya di luar pulau,di pulau seberang saya mencoba untuk kembali mengikuti perayaan ekaristi yang sudah lama saya tinggalkan dan saya menemukan kembali pancaran hati saya yang sudah lama redup tak bersinar,lewat gereja katholik yang terletak di atas bukit itu.Setiap minggu saya kembali mengikuti perjamuan kudus itu.3 bulan berlalu,usaha paman saya mulai goyah akhirnya gulung tikar namun saya mendoakan paman saya untuk tetap sabar,terus dan terus berdoa.Tak lama tragedi menimpa keluarga besar-ku setelah usaha paman bangkrut,mama saya mendapatkan 5 jahitan akibat kecelakaan motor,begitu mendengar berita itu,saya langsung berkemas ke Jakarta,sewaktu dalam perjalanan pulang saya mendapat berita duka cita pada hari yang sama,yaitu nenek-ku tercinta yang sudah 1 minggu dirawat di rumah sakit,meninggalkan kami untuk selama-lamanya.Saat itu saya benar-benar kecewa kepada Tuhan,mengapa doa & permohonan saya tidak dikabulkan?

Sesampainya di Jakarta saya belum bisa langsung beristirahat,karena sebagai cucu tertua (karena saat itu kakak saya sedang berada diluar negeri) harus mengikuti upacara pemakaman dari awal hingga akhir,ditambah lagi dengan merawat mama yang sedang saat itu masih terbaring dirumah sakit.Setelah 1 minggu kemudian mama diperbolehkan untuk pulang.

Semenjak kejadian itu saya kembali jadi pengangguran yang mencari uang jajan lewat hidup dijalan,saya kembali ke kehidupan sebelumnya & kembali berhubungan dengan Sn.Berita kembalinya saya ke Jkt pun akhirnya di dengar oleh keluarga Sn,sampai akhirnya saya & Sn disidang oleh keluarganya.Apakah kamu benar-benar serius berhubungan dengan Sn? Tanya keluarganya,”kalau masalah serius,bisa bapak Tanya sendiri oleh Sn,kalau saya memang benar-benar mencintainya! “jawab saya”tapi kalau Sn yang mengikuti kepercayaan saya,atau saya yang mengikuti kepercayaan bapak,itu belum bisa kami putuskan,tambahan dari mulut saya.Namun orang tua Sn bersikeras agar saya yang mengikuti  kepercayaan Sn.Kamu kan lelaki,masa kamu tidak bisa memutuskan masalah itu.Kalau kamu tidak bisa memberikan jawaban saat ini juga kamu jangan pernah coba-coba lagi untuk menemui anak saya,Karena anak saya mau di sekolahkan di pesantren tempat kakaknya mengajar! Orang tua Sn pun mengancam,Sn yang saat itu mendengar kata-kata orang tuanya langsung menangis dan masuk ke kamar.Saya yang saat itu merasakan situasi yang sangat tegang dan tak mau hubungan saya dengan Sn putus dengan keadaan seperti itu,akhirnya mengalah,tapi saya hanya mau belajar kepercayaan yang bapak anut dulu loh pak!Karen saya tak ingin pindah agama hanya gara-gara Sn berbeda dengan saya,tapi saya ingin pindah agama benar-benar dari hati saya pribadi! Kata terakhir yang merupakan pertimbangan dari saya walaupun hati kecil saya menolak.Akhirnya orang tua Sn menyetujui pertimbangan saya,dan kita bisa berhubungan lagi tanpa sepengetahuan keluarga saya.Karena dari pihak keluarga saya pun menolak dengan keras apabila saya berhubungan dengan Sn.

Setelah kejadian itu saya pun diajarkan oleh Sn tentang hukum-hukum agama yang Sn anut,membaca dan menulis huruf-huruf arab walaupun tidak bisa-bisa tapi Sn pun tidak menyerah untuk memperkenalkan-ku tentang agama yang dia anut.tapi tidak sampai belajar sholat dan mengaji,karena saya hanya ingin mengenal saja.3 bulan lamanya saya menganggur di Jkt,saya mendengar kabar bahwa tak lama lagi paman saya yang berada di pulau seberang akan berlibur ke Jkt.Biasanya kalau saya belum mendapatkan pekerjaan,saya diajak kembali oleh paman untuk membantu usaha yang baru ia gerakan.Ternyata dugaan saya benar,saya yang sudah terlanjur mencintai Sn dan tak ingin berpisah dari Sn,akhirnya kabur dari rumah selama 3 hari saya tidak pulang walaupun duit sepeser tak ada dikantong,baju dan celana,cuma yang saya kenakan.yang saya pikirkansaat itu adalah saya tak ingin lagi berpisah dengan Sn,dan saya berniat akan kembali kerumah apabila paman saya sudah kembali lagi ke pulau seberang,ternyata paman saya membatalkan tiket yang sudah dipesan dan ikut membantu orang tua saya untuk mencari saya.

Sampai hari ke-4 saya tinggal dirumah teman saya secara bergiliran seperti seekor parasut yang hidupnya berpindah-pindah.Saya kembali berpikir,sampai kapan saya harus begini? Akhirnya Sn membujuk saya untuk kembali kerumah,tapi saat itu saya kerumah kakek saya yang rumahnya tak jauh dari rumah saya.Ternyata disana orang tua beserta keluarga besar mama saya sedang kumpul,seperti anak yang hilang ,begitu keluarga saya melihat saya mereka langsung memeluk & menangis di bahu saya.Akhirnya 3 hari kemudian saya berpamitan ke teman-teman saya termasuk keluarga Sn karena saya akan kembali ke pulau seberang bersama paman saya.Sesampainya disana perubahan sikap saya benar-benar kelihatan,yang awalnya periang,menjadi pemurung dan senang menyendiri,bermain gitar & bersenandung,sampai suatu hari saya berpikir “Apakah saya mempermainkan agama?Seberapa besarkah dosa saya?Apa yang harus saya lakukan?”sambil bertanya-tanya,saya memainkan sebuah lagu kenangan”Apa salah & dosa-ku?” yang salah satu liriknya “Oh Tuhan berilah petunjuk-Mu! Untuk ku jadikan pegangan hidup-ku!” makanya sampai sekarang ini saya selalu senang lagu itu,ternyata Tuhan benar-benar memberikan petunjuk.

Ditempat tinggal paman saya tepatnya di depan rumah paman saya ada sebuah keluarga,yang ternyata selama ini dia selalu memperhatikan kegelisahan saya dari balik jendela rumahnya,tak lama dia menghampiri saya yang saat itu sedang duduk diteras rumah.Dia memperkenalkan dirinya (sebut saja AH) namun saya memanggilnya dengan sebutan Om (karena umurnya hamper sama dengan papa saya).Kehadiran dia benar-benar sangat berarti buat saya,dia selalu memperhatikan kehidupan saya melebihi perhatian paman saya.Saya sudah menganggap Om.AH seperti orang tua saya sendiri,saya pun sudah dianggap seperti anak sendiri oleh keluarga Om.AH.Saya selalu bercerita bagaimana kehidupan saya yang dahulu sampai saya berhubungan dengan gadis yang berbeda agama dengan saya,dia juga memberikan nasehat kepada saya agar saya jangan salah langkah.Dia juga mensuport saya untuk selalu beribadah ke gereja dan selalu berdoa kepada Tuhan.Sampai suatu kali saya berpikir “akan memutuskan hubungan saya dengan Sn apabila waktunya benar-benar pas,tapi saya menginginkan seolah-olah Sn yang menyakiti saya dan bukan saya menyakiti Sn.

8 bulan lamanya saya tinggal dipulau sebrang,tidak punya teman,sahabat hanya Om.AH yang menjadi kawan dan orang tua saya selama disana.Akhirnya pas malam natal 2003 saya berniat kembali ke Jkt dan merayakan natal di Jkt,saya berpamitan dengan Om.AH,Istrinya dan anaknya yang menganggap saya sebagai keluarganya sendiri,tidak sedikit oleh-oleh dari mereka yang saya bawa untuk keluarga saya di Jakarta.Tanggal 24 Desember 2003 jam 4:00 saya mendarat dan kembali menghirup udara di Jakarta,perasaan senang,rindu,kangen pun tak tertahan untuk menuju kerumah.Malam natal pun tidak saya lewatkan untuk mengikuti misa walaupun badan terasa lelah.Setelah natal,biasanya para mudika berkeliling untuk mengucapkan selamat natal kepada seluruh warga katholik,namun saya tunggu ternyata tidak ada yang berkunjung kerumah saya,”mungkin tidak tau kalau saya sudah kembali,karena saya pun belum begitu akrab sama teman-teman mudika”pikirku.Sn pun yang begitu tahu kalau saya sudah kembali,ingin bertemu dengan ku setelah 1 tahun berpisah.

Satu bulan setelah itu saya bercerita kepada teman-teman saya yang juga teman-teman Sn,bahwa saya akan berusaha agar Sn menyakiti saya.Teman-teman yang begitu mendengar kata-kata saya langsung kaget dan melontarkan pertanyaan,Emang kenapa?Lu ga sayang lagi ma dia? atau lo dapat cewek baru disana? Saya hanya menjawab:justru karena gue sayang banget ma dia makanya gue ambil jalan seperti ini.Jalan terbaikuntuk kita berdua,kalian kan tau selama 3 tahun gue berhubungan ma dia,tapi selama 3 tahun gue juga back street,gue kasihan ma dia kalo terus-terusan seperti ini.”Akhirnya teman-teman saya pun mengerti akan jalan yang saya ambil ini.Tepatnya bulan April 2004 saya mendapatkan sebuah undangan ibadat paskah mudika wilayah,mau tidak mau akhirnya saya ikut menghadiri undangan itu,karena yang memberikan undangan itu langsung bertemu dengan saya.Ibadat paskah itu dipimpin oleh Rm.L.B.S.Wiryo Wardoyo.Pr dengan didampingi seorang pengurus mudika paroki.Setelah ibadat diadakan acara ramah tamah antara mudika wilayah dan paroki,dan saya sempat berpikiran “enak sekali yach kalau kita bisa dekat,akrab dengan seorang pemuka agama!”Akhirnya sya pun berkeinginan untuk menyempurnakan pikiran saya dengan bergabung di acara LDK St.Gabriel yang diadakan tanggal 16-18 juli 2004 yang lalu.Walaupun jadi peserta namun saya langsung diangkat menjadi ketua regu di tim yang saya pimpin.

Setelah acara LDK saya pun semakin bersemangat,karena melihat solidaritas,kekompakkan,dan kreatifitas panitia LDK.Saya ingin menjadi bagian dalam suatu acara,ternyata benar-benar terkabul.Saya menjadi bagian dari panitia penyelenggara HUT RI ke-59 (17Agustus 2004)di gereja St.Gabriel.Mungkin karena kesibukan saya di gereja,Sn tidak pernah bisa bertemu dengan saya seperti tahun-tahun sebelumnya.Akhirnya dia kesal dan ingin bertemu dan berbicara dengan saya,dalam pembicaraannya itu dia berkata”kamu kayaknya sibuk sekali yach! Sampai-sampai perhatian ke aku aja tidak ada sama sekali!,kamu terlalu egois,terlalu memikirkan pekerjaan dan keluarga kamu saja akhir-akhir ini! Ya udah aku doain semoga kamu tuch cepat kaya!!”Saya pun kaget setengah mati dengan kata-kata yang diucapkan Sn,namun saya menimpalinya “oh,ya sudah, makasih atas doanya!!!” Saya pun langsung  meninggalkannya dalam keadaan menangis,Bayangkan saja baru jadi teman istimewa sudah berani bilang seperti itu,masalah keluarga pakai di bawa-bawa,bagaimana bila sudah jadi pasangan hidup. Namun doa yang Sn ucapkan benar-benar menjadi kenyataan,1 minggu setelah itu saya mendapatkan panggilan kerja,lewat lamaran yang saya masukkan di gereja dan saya diterima sebagai staff di perusahaan itu.

Niat dan keinginan saya untuk bekerja penuh sebagai ungkapan rasa syukur kepada gereja semakin menggebu-gebu.Tak lama ada pergantian pengurus mudika paroki dan yang menjadi kandidat dari wilayah saya adalah saya sendiri,nah kesempatan ini tidak saya sia-siakan untuk mewujudkan keinginan yang selama ini terpendam dari diri saya.Berawal dari visi dan misi yang dicanangkan oleh beberapa kandidat semua bernilai baik termasuk saya,yang mempunyai visi,merecruit anggota mudika yang belum tergerak hatinya untuk aktif di organisasi mudika paroki,dan misi saya adalah mengadakan suatu  program yang meliputi paroki kita sendiri dengan mudika dari paroki lain.Semua itu menjadikan saya sebagai ketua Dewan Mudika Harian di kepengurusan mudika paroki dan keinginan saya untuk bisa kenal dan akrab dengan pemuka agama akhirnya bisa terwujud,dengan hadirnya Romo Rudy.H.Pr di paroki ini saya bisa kenal dengan mudika keseluruhan.Dan ternyata yang dulunya musuh diwaktu sekolah sekarang bisa menjadi kawan,mungkin inikah panggilan Tuhan.

Siapa bilang urakkan tidak bisa menjadi pelayan Tuhan?

Kisah Anjing, Monyet dan Keledai

Pada waktu itu Tuhan menciptakan keledai dan berkata demikian “Kamu akan bekerja tak kenal lelah, membawa beban yang berat, tak punya kepandaian, dan sering melakukan kesalahan, kamu Kuberi kehidupan selama 50 tahun dan namamu keledai”. Dan keledai itu menjawab “50 tahun terlalu lama buatku Tuhan, berikan aku umur 20 tahun saja”. Lalu Tuhan mengabulkan permintaan keledai itu.

Kemudian Tuhan menciptakan anjing dan berkata demikian “kamu akan mencari majikan , dan akan memakan apa saja yang mereka berikan dan kamu akan hidup selama 30 tahun dan bernama anjing. Kemudian anjing itu menjawab “30 tahun terlalu lama buatku, berikan aku kehidupan selama 10 tahun saja Tuhan. Setelah itu anjing berumur 10 tahun.

Tak lama kemudian Tuhan menciptakan monyet dan berkata “kamu akan lompat dari pohon yang satu ke pohon yang lainnya,melakukan hal yang bodoh, dan kamu akan membuat hiburan kepada makhluk lainnya selama 20 tahun dan mereka akan memanggilmu monyet. Tetapi monyet itu menjawab “Tuhan, hidup selama 20 tahun itu sangat lama, berikan aku 10 tahun saja”. Dan Tuhan sekali lagi setuju.

Setelah itu Tuhan menciptakan manusia dan berkata demikian “kamu adalah makhluk rasional, dan memiliki kepandaian, kamu akan menguasai seluruh isi bumi dan kamu akan hidup selama 20 tahun. Dan manusia itu menjawab “20 tahun terlalu cepat buatku, apalagi aku adalah makhluk paling rasional dan memiliki kepandaian serta menguasai seluruh isi bumi, kenapa tak Kau berikan saja sisa umur 30 tahun dari keledai, 20 tahun dari anjing, dan 10 tahun dari monyet ?”. “Baiklah” jawab Tuhan. Maka dari itu manusia hidup selama 20 tahun bagaikan manusia normal, setelah itu 30 tahun kemudian hidup bagaikan seekor keledai yang bekerja tak kenal lelah, dan menjadi bodoh serta banyak melakukan kesalahan-kesalahan, 20 tahun sesudahnya mulai memasuki masa pensiun dimana setiap manusia akan memakan apa saja yang diberikan oleh anak-anaknya, dan menghabiskan 10 tahun sisanya bagaikan seekor monyet, pindah dari rumah anaknya yang satu ke rumah anaknya yang lain, dan melakukan hal-hal konyol dan bodoh guna menggembirakan cucu-cucunya.

Apakah Tuhan telah “shutdown’ karena Facebook ?

Saya tergelitik menuliskan ini setelah menghadiri sebuah Perayaan Ekaristi di sebuah kampus. Kebetulan Misanya sedikit telat dimulai.
Tapi, di sebelah saya begitu Misa dimulai dia sudah sibuk dengan HP-nya.
Saya pikir dia sedang ber-SMS. Karena hingga Misa dimulai dia masih bersibuk juga, sempat saya tegur, “Sibuk, Bu?”. Dia hanya menyeringai.

Hingga pertengahan Misa, dia masih berkutat dengan HP-nya.
Sejujurnya saya sedikit risih. Tapi, mau gimana lagi? Sudah ditegur, masih begitu juga.
Sampai ketika menjelang persembahan, saya mendengar sebuah bunyi ring telepon. Saya pikir dari HP yang di sebelah saya itu.
Ternyata, beberapa bangku setelah dia, seorang ibu-ibu berdandan rapi dan cantik tengah mengangkat teleponnya. Nampaknya ia tidak berusaha menerangkan atau menyudahi pembicaraan karena ia sedang mengikuti Misa. Itu terlihat dari gerak tubuh dan waktu sekian menit ia bertelpon.
Kali ini saya dan gadis muda yang juga masih sibuk dengan HP-nya saling berpandangan. Kami sama-sama tahu, bahwa kami terganggu dengan kondisi ini.

Saya lebih nggak bisa apa-apa lagi selain berharap pembicaraan ibu itu cepat selesai. Suara sang ibu cukup terdengar sampai ke tempat duduk saya yang sederet dengannya.
Dari tampilan dan letak duduk kami, saya menduga dia adalah salah satu dosen dari kampus itu.
Ah, saya jadi makin geleng-geleng kepala saja.

Setelah Bu Dosen itu menyelesaikan pembicaraannya, perhatian saya kembali kepada gadis muda yang duduk di sebelah saya. Dia masih tetap saja berkutat dengan HP-nya.
Hingga akhirnya dia menahan kesal dan berujar pelan, “Susah amat sih mau up date status di facebok? Daritadi mental terus”.

Hah??!!?!
Jadi, selama ini berkutat dengan HP itu karena dia sedang berusaha mengubah statusnya di facebook bukan karena sedang SMS?

Selesai Misa, gadis itu tersenyum panjang sebab up date status FB-nya bisa terlaksana.
(tidakkah ini semacam tanda supaya dia tidak melakukan hal itu selama di misa?)

Well.
Saya nggak bisa komentar banyak lagi. Cuman bisa menepuk-nepuk bahu gadis di sebelah saya iyu.

Di dunia yang serba canggih dan (katanya) membuat kemudahan pekerjaan banyak orang ini, nampak semakin absurd bentuk atau kondisi boleh atau tidaknya sesuatu yang kita kerjakan pada suatu waktu atau tempat.
Saya ingat dulu, ibu alm nggak memperbolehkan saya keluar rumah dengan bercelana pendek apalagi menerima tamu. Harus ganti dengan baju yang lebih sopan.
Tapi, sekarang bercelana pendek ke gereja pun rasanya semua orang idem saja.

Jika bertamu, pukul 20 beberapa waktu lalu dianggap terlalu malam. Waktunya orang beristirahat dan berkumpul dengan keluarga.
Sekarang? Pukul 22 juga masih boleh karena kebanyakan orang baru sampai di rumah pukul 21.
Lalu, waktu beristirahat dan untuk keluarga? Ya bisa jadi, disambi diantara itu.

Cuman…
Apakah hal-hal seperti itu juga menjadi permakluman untuk yang berhubungan dengan waktu khusus di rumah Tuhan?

Kewajiban untuk memenuhi kebutuhan hidup memang tidak bisa kita singkirkan begitu saja. Malah kita diberi akal dan budi supaya terlaksanalah kewajiban itu.
Tak bisa disalahkan juga makin hari, kebutuhan hidup semakin bertambah.
Harus bekerja keras supaya semua itu bisa terpenuhi.

Tapi, dari 7×24 jam = 168 jam kita diberi untuk menggapai banyak cita itu, Tuhan hanya meminta sekitar 1 jam saja untuk sekadar menyapa dan berterima kasih padaNya, “Tuhan, apa kabar hari ini? Terima kasih untuk selalu menyertaiku ya….”
Tak salah bukan menyapaNya sebab Ia selalu menyapa kita setiap saat?
Bahkan mungkin bercakap-cakap denganNya.

1 jam saja.
Tidak sampai berjam-jam atau bahkan berhari-hari.
Setelah itu, boleh lah kita tenggelam dalam kesibukan atau kesenangan kita lagi.

Dari yang hanya 60 menit itu, apakah harus “didiskon” lagi untuk memenuhi hasrat ber-FB dan atau bertelpon, entah untuk urusan apa pun?

Apakah kepentingan duniawi lebih penting dari sekadar bertemu yang memberi hidup untuk memenuhi kepentingan itu?
Atau memang FB lebih menarik dari kotbah Pastor?

Seorang adik damping yang saya curhati tentang hal ini berkomentar, “Tuhan telah mati. Facebooklah yang membunuhnya”.

Benarkah?

* tulisan ini saya tulis sebagai permenungan saja tanpa bermaksud menyinggung pihak-pihak tertentu.

Kekayaan, Kesuksesan serta Kasih Sayang

Suatu ketika, ada seorang wanita yang kembali pulang ke rumah dari
perjalanannya keluar rumah, dan ia melihat ada 3 orang pria berjanggut
yang duduk di halaman depan. Wanita itu tidak mengenal mereka semua.

Wanita itu berkata dengan senyumnya yang khas: “Aku tidak mengenal
Anda, tapi aku yakin Anda semua pasti orang baik-baik yang sedang lapar.
Mari masuk ke dalam, aku pasti punya sesuatu untuk mengganjal perut”.

Pria berjanggut itu lalu balik bertanya, “Apakah suamimu sudah pulang?”

Wanita itu menjawab, “Belum, dia sedang keluar”.

“Oh kalau begitu, kami tak ingin masuk. Kami akan menunggu sampai
suamimu kembali”, kata pria itu.

Di waktu senja, saat keluarga itu berkumpul, sang isteri menceritakan
semua kejadian tadi. Sang suami, awalnya bingung dengan kejadian ini,
lalu ia berkata pada istrinya, “Sampaikan pada mereka, aku telah
kembali, dan mereka semua boleh masuk untuk menikmati makan malam ini”.

Wanita itu kemudian keluar dan mengundang mereka untuk masuk ke dalam.

“Maaf, kami semua tak bisa masuk bersama-sama” , kata pria itu hampir
bersamaan.

“Lho, kenapa? tanya wanita itu karena merasa heran.

Salah seseorang pria itu berkata, “Nama dia Kekayaan,” katanya sambil
menunjuk seorang pria berjanggut disebelahnya, “sedangkan yang ini
bernama Kesuksesan, sambil memegang bahu pria berjanggut lainnya.

Sedangkan aku sendiri bernama Kasih-Sayang.
Sekarang, coba tanya kepada suamimu, siapa diantara kami yang boleh

masuk kerumahmu.”

Wanita itu kembali masuk kedalam, dan memberitahu pesan pria di luar.
Suaminya pun merasa heran. “Ohho.menyenangka n sekali.. Baiklah,
kalau begitu, coba kamu ajak si Kekayaan masuk ke dalam. Aku ingin rumah ini
penuh dengan Kekayaan.”

Istrinya tak setuju dengan pilihan itu. Ia bertanya, “sayangku, kenapa
kita tak mengundang si Kesuksesan saja? Sebab sepertinya kita perlu dia
untuk membantu keberhasilan panen ladang pertanian kita.”

Ternyata, anak mereka mendengarkan percakapan itu. Ia pun ikut
mengusulkan siapa yang akan masuk ke dalam rumah. “Bukankah lebih baik jika
kita mengajak si Kasih-sayang yang masuk ke dalam? Rumah kita ini akan
nyaman dan penuh dengan kehangatan Kasih-sayang. ”

Suami-istri itu setuju dengan pilihan buah hati mereka. “Baiklah, ajak
masuk si Kasih-sayang ini ke dalam. Dan malam ini, Si Kasih-sayang
menjadi teman santap malam kita.”

Wanita itu kembali ke luar, dan bertanya kepada 3 pria itu. “Siapa
diantara Anda yang bernama Kasih-sayang? Ayo, silahkan masuk, Anda menjadi
tamu kita malam ini.”

Si Kasih-sayang berdiri, dan berjalan menuju beranda rumah. Ohho..
ternyata, kedua pria berjanggut lainnya pun ikut serta. Karena merasa
ganjil, wanita itu bertanya kepada si Kekayaan dan si Kesuksesan.

“Aku hanya mengundang si Kasih-sayang yang masuk ke dalam, tapi kenapa
kamu ikut juga?”

Kedua pria yang ditanya itu menjawab bersamaan. “Kalau Anda mengundang
si Kekayaan, atau si Kesuksesan, maka yang lainnya akan tinggal di
luar. Namun, karena Anda mengundang si Kasih-sayang, maka, kemana pun

Kasih sayang pergi, kami akan ikut selalu bersamanya. Dimana ada
Kasih-sayang,

maka kekayaan dan Kesuksesan juga akan ikut serta. Sebab,
ketahuilah, sebenarnya kami berdua ini buta. Dan hanya si Kasih-sayang yang
bisa melihat. Hanya dia yang bisa menunjukkan kita pada jalan kebaikan,
kepada jalan yang lurus. Maka, kami butuh bimbingannya saat berjalan. Saat
kami menjalani hidup ini.”

Salam dari Kasih sayang

Hanya sebuah Inspirasi

Pagi ini saya terkejut dengan sebuah email yang saya dapatkan dari seorang teman, dimana dalam email tersebut terdapat lampiran link artikel yang berjudul “Vatikan dilanda skandal korupsi”. Terdiam saat melihat judul yang tertulis serta ada keraguan untuk membuka link yang dilampirkan dalam email tersebut akan tetapi rasa keingintahuan menghancurkan segala keraguan tersebut. Dalam link yang dilampirkan, saya merasa terpukul dengan isi yang tertera dimana dalam kalimat terbuka, tercantum sebuah kata yang ber-identifikasikan seorang Katholik. Sedih… Kaget… Marah… Melihat apa yang tertulis, namun saya mencoba untuk merenungkan dan menemukan sebuah jawaban bahwa Orang yang melakukan perbuatan tersebut berdasar dari tingkah laku orang tersebut. Tuhan tidak pernah memerintahkan ciptaan-Nya untuk berbuat dosa, Dia juga tidak pernah membiarkan insan untuk terjerumus (read :”Tuhan tidak menyebabkan”). Akan tetapi, Bapa di Surga mengutus putra-Nya berada dekat bersama para pendosa seperti tertulis dalam Lukas 15:1″ pemungut pajak dan orang berdosa berkumpul di sekeliling Yesus untuk mendengar-Nya”. Jadi saudaraku, janganlah pernah berpikir bahwa Dia meninggalkan atau menyesatkan kita, percayalah bahwa Ia selalu mencari kita orang berdosa untuk mendengarkan serta mengikuti jalan kebenaran melalui putra-Nya yang telah diutus “Ketika Allah membangkitkan Hamba-Nya, pertama-tama Ia mengutus-Nya kepada kamu. Allah mengutus Yesus untuk memberkati kamu. Dia melakukan itu dengan membuat kamu masing-masing berbalik dari kejahatanmu.” (Kisah 3:26). Jadikan peristiwa Vatikan sebagai tantangan kita sebagai seorang Katholik yang sejati. Tuhan memberkati. (ditulis oleh : Andreas G. alvin)

Saint Gabriel Youth Community

1. INTRODUCTION
As a student who wants to complement the capability of learning and teaching in all fields, I did volunteer to improve skill and abilities as well as a requirement to supplement my education phase. Therefore, in this report I will describe about the voluntary activities as a Chairman of Youth community of the Parish of Saint Gabriel, Jakarta – Indonesia I have ever done.

2. DESCRIPTION OF WORK AND THE ORGANISATION
2.1 The organization
St. Gabriel Catholic Church is set by the Archdiocese of Jakarta on July 23, 1995 as a 51st parish in Jakarta, Indonesia. Through the motto “Gaudium Omnibus”, means enjoyment for people with expect that the occurrence of this parish can provide particularly good news for the people of the community surrounding the church. Historically, the Saint Gabriel church is the chapel of the Parish church of Saint Bonaventure in 1988. At the time, people listed as many as 439 people and parishes along the development process, the presence of people increased to 2811 people. Furthermore, officially Saint Gabriel became a Parish on 23 July 1995 by the Archbishop of Jakarta declaration number 1083/3.25.3/9.
In its organizational structure, there are two types organizational structures, such as:

a. Territorial
which is manageably small area housing a community of some people who registered, who lived, worked and worshipped together, with a church and a school at its center and a minister and a kirk session to attend to both its spiritual and its temporal necessities. The territorial organised by
– Chairman of the parish council,
– Vice chairman of the parish council,
– Parish Council Secretary,
– Treasurer of the parish council,
– Chairman of the parish youth,
– Chairman of the region,
– Chairman of the youth region.

b. Categorical
The religious service activity of Parish community. For instance:
– Bible study community
– Legion of Mary
– Elderly community
The community involved has an organitation structure that collaborates and supports each other.

In this organisation, I have involved as a Chairman of Youth community of the Parish of Saint Gabriel, Jakarta – Indonesia that has some of responsibilities such as:
– Thinking and coordinate youth group activities.
– Pursue funding and facilities to support the smooth coaching and development in the parish and parts of its territory.
– Responsible for the implementation of the youth group in the parishes and regions.
Make an annual accountability report and the incidental and financial performance of duties to the Board of the Parish Pastoral.

2.2 My Involvement
I have involved in this community from 2004 until 2007 (approximately + 10950 hours) as a Chairman of the parish youth. During the involvement, I have learned different experience such as:
– Sport competition organizer (2004)
– Organizer of the 40th days requiem mass of Pope John Paul II (8th may 2005).
– Organizer of the visit to the seminary (2006).
– Bible Camp organizer (2006).
– Journalistic workshop organizer (2007).
– Organizer of the pilgrimage to the cave Maria (2007).
– Bible Study group organizer (2004 – 2007).
– Christmas celebration organizer (2004 – 2007).
– Easter celebration organizer (2004 – 2007).
– Natural Disasters rescue team leader (2004 – 2007).
– Youth & Elderly mass organizer (2004 – 2007)

3. LEARNING OUTCOME

3.1 Developed an awareness of social justice issues and the economic and social effects of modern life.
The social issues that appear in the society seem to be the problem that no one can live without the others. The problem cannot be solved as the people are living in the varying level of economic and social. Some of them are living in the place, condition and environment that can allow them to do much but some are on the contrasting side. As this control, the involvement in the non-profit organization has allowed people to create fewer limitations between the two categories. Since it is a non-profit organization, the anxiety of being socially and economically stressed can be taken away in order to create a better social life, which stress on the better together.

3.2 Heightened awareness of the responsibility of individuals to the wider community
This volunteer helps me to realize to contribute our time and energy to the society, which are needed my support. Since, I am youthful to have an opportunity to help someone, who is still need my support. It is important to support the other while I can afford to do it.

3.3 Ethical, spiritual, professional and personal development
I might say that learn to share with others from youth in different background after doing this volunteer. The most appropriate regarding this personal reflecting is when I was on public as I am able to respect the others regardless of their background. The reason is because I have realised since I was attending the volunteer, which is involved to the community.

3.4 Business communication skills, information literacy and interpersonal skills
There will be a difference the first time as a volunteer at the church. While serving in this community, I have got many opportunities to interact with others, speak in front of people, and speech. I also get knowledge about the structures and procedures within the organization. Furthermore, I have the ability on how to organize, facilitate, and cooperate with the team.

3.5 Critical and analytical abilities.
These skills I have gained when I was joined with this community in 2004. Moreover, I realize the importance from the social work. Their purpose is to bring back the society for working together. The volunteer in St. Gabriel church served the community with their feeling as a volunteer, as their love their community.

4. REFLECTION
The Volunteering not only helps and benefits one’s community but, in a way, it benefits the volunteers themselves. For instance, I believe volunteering makes a person feel worthy, as if they’ve accomplished something because they made someone else’s life better or they made a change in their community somehow. Volunteering also shows that that person is generous, compassionate, and good-hearted, because he/she is kind enough to give up a few hours of their time and put it into their community. It also serves others without expecting to get anything out of their service. I believe that everyone should give back to their community because volunteering will make your community a more comforting and pleasing place to live in.