Apakah Tuhan telah “shutdown’ karena Facebook ?

Saya tergelitik menuliskan ini setelah menghadiri sebuah Perayaan Ekaristi di sebuah kampus. Kebetulan Misanya sedikit telat dimulai.
Tapi, di sebelah saya begitu Misa dimulai dia sudah sibuk dengan HP-nya.
Saya pikir dia sedang ber-SMS. Karena hingga Misa dimulai dia masih bersibuk juga, sempat saya tegur, “Sibuk, Bu?”. Dia hanya menyeringai.

Hingga pertengahan Misa, dia masih berkutat dengan HP-nya.
Sejujurnya saya sedikit risih. Tapi, mau gimana lagi? Sudah ditegur, masih begitu juga.
Sampai ketika menjelang persembahan, saya mendengar sebuah bunyi ring telepon. Saya pikir dari HP yang di sebelah saya itu.
Ternyata, beberapa bangku setelah dia, seorang ibu-ibu berdandan rapi dan cantik tengah mengangkat teleponnya. Nampaknya ia tidak berusaha menerangkan atau menyudahi pembicaraan karena ia sedang mengikuti Misa. Itu terlihat dari gerak tubuh dan waktu sekian menit ia bertelpon.
Kali ini saya dan gadis muda yang juga masih sibuk dengan HP-nya saling berpandangan. Kami sama-sama tahu, bahwa kami terganggu dengan kondisi ini.

Saya lebih nggak bisa apa-apa lagi selain berharap pembicaraan ibu itu cepat selesai. Suara sang ibu cukup terdengar sampai ke tempat duduk saya yang sederet dengannya.
Dari tampilan dan letak duduk kami, saya menduga dia adalah salah satu dosen dari kampus itu.
Ah, saya jadi makin geleng-geleng kepala saja.

Setelah Bu Dosen itu menyelesaikan pembicaraannya, perhatian saya kembali kepada gadis muda yang duduk di sebelah saya. Dia masih tetap saja berkutat dengan HP-nya.
Hingga akhirnya dia menahan kesal dan berujar pelan, “Susah amat sih mau up date status di facebok? Daritadi mental terus”.

Hah??!!?!
Jadi, selama ini berkutat dengan HP itu karena dia sedang berusaha mengubah statusnya di facebook bukan karena sedang SMS?

Selesai Misa, gadis itu tersenyum panjang sebab up date status FB-nya bisa terlaksana.
(tidakkah ini semacam tanda supaya dia tidak melakukan hal itu selama di misa?)

Well.
Saya nggak bisa komentar banyak lagi. Cuman bisa menepuk-nepuk bahu gadis di sebelah saya iyu.

Di dunia yang serba canggih dan (katanya) membuat kemudahan pekerjaan banyak orang ini, nampak semakin absurd bentuk atau kondisi boleh atau tidaknya sesuatu yang kita kerjakan pada suatu waktu atau tempat.
Saya ingat dulu, ibu alm nggak memperbolehkan saya keluar rumah dengan bercelana pendek apalagi menerima tamu. Harus ganti dengan baju yang lebih sopan.
Tapi, sekarang bercelana pendek ke gereja pun rasanya semua orang idem saja.

Jika bertamu, pukul 20 beberapa waktu lalu dianggap terlalu malam. Waktunya orang beristirahat dan berkumpul dengan keluarga.
Sekarang? Pukul 22 juga masih boleh karena kebanyakan orang baru sampai di rumah pukul 21.
Lalu, waktu beristirahat dan untuk keluarga? Ya bisa jadi, disambi diantara itu.

Cuman…
Apakah hal-hal seperti itu juga menjadi permakluman untuk yang berhubungan dengan waktu khusus di rumah Tuhan?

Kewajiban untuk memenuhi kebutuhan hidup memang tidak bisa kita singkirkan begitu saja. Malah kita diberi akal dan budi supaya terlaksanalah kewajiban itu.
Tak bisa disalahkan juga makin hari, kebutuhan hidup semakin bertambah.
Harus bekerja keras supaya semua itu bisa terpenuhi.

Tapi, dari 7×24 jam = 168 jam kita diberi untuk menggapai banyak cita itu, Tuhan hanya meminta sekitar 1 jam saja untuk sekadar menyapa dan berterima kasih padaNya, “Tuhan, apa kabar hari ini? Terima kasih untuk selalu menyertaiku ya….”
Tak salah bukan menyapaNya sebab Ia selalu menyapa kita setiap saat?
Bahkan mungkin bercakap-cakap denganNya.

1 jam saja.
Tidak sampai berjam-jam atau bahkan berhari-hari.
Setelah itu, boleh lah kita tenggelam dalam kesibukan atau kesenangan kita lagi.

Dari yang hanya 60 menit itu, apakah harus “didiskon” lagi untuk memenuhi hasrat ber-FB dan atau bertelpon, entah untuk urusan apa pun?

Apakah kepentingan duniawi lebih penting dari sekadar bertemu yang memberi hidup untuk memenuhi kepentingan itu?
Atau memang FB lebih menarik dari kotbah Pastor?

Seorang adik damping yang saya curhati tentang hal ini berkomentar, “Tuhan telah mati. Facebooklah yang membunuhnya”.

Benarkah?

* tulisan ini saya tulis sebagai permenungan saja tanpa bermaksud menyinggung pihak-pihak tertentu.

Advertisements

Hanya sebuah Inspirasi

Pagi ini saya terkejut dengan sebuah email yang saya dapatkan dari seorang teman, dimana dalam email tersebut terdapat lampiran link artikel yang berjudul “Vatikan dilanda skandal korupsi”. Terdiam saat melihat judul yang tertulis serta ada keraguan untuk membuka link yang dilampirkan dalam email tersebut akan tetapi rasa keingintahuan menghancurkan segala keraguan tersebut. Dalam link yang dilampirkan, saya merasa terpukul dengan isi yang tertera dimana dalam kalimat terbuka, tercantum sebuah kata yang ber-identifikasikan seorang Katholik. Sedih… Kaget… Marah… Melihat apa yang tertulis, namun saya mencoba untuk merenungkan dan menemukan sebuah jawaban bahwa Orang yang melakukan perbuatan tersebut berdasar dari tingkah laku orang tersebut. Tuhan tidak pernah memerintahkan ciptaan-Nya untuk berbuat dosa, Dia juga tidak pernah membiarkan insan untuk terjerumus (read :”Tuhan tidak menyebabkan”). Akan tetapi, Bapa di Surga mengutus putra-Nya berada dekat bersama para pendosa seperti tertulis dalam Lukas 15:1″ pemungut pajak dan orang berdosa berkumpul di sekeliling Yesus untuk mendengar-Nya”. Jadi saudaraku, janganlah pernah berpikir bahwa Dia meninggalkan atau menyesatkan kita, percayalah bahwa Ia selalu mencari kita orang berdosa untuk mendengarkan serta mengikuti jalan kebenaran melalui putra-Nya yang telah diutus “Ketika Allah membangkitkan Hamba-Nya, pertama-tama Ia mengutus-Nya kepada kamu. Allah mengutus Yesus untuk memberkati kamu. Dia melakukan itu dengan membuat kamu masing-masing berbalik dari kejahatanmu.” (Kisah 3:26). Jadikan peristiwa Vatikan sebagai tantangan kita sebagai seorang Katholik yang sejati. Tuhan memberkati. (ditulis oleh : Andreas G. alvin)

Saint Gabriel Youth Community

1. INTRODUCTION
As a student who wants to complement the capability of learning and teaching in all fields, I did volunteer to improve skill and abilities as well as a requirement to supplement my education phase. Therefore, in this report I will describe about the voluntary activities as a Chairman of Youth community of the Parish of Saint Gabriel, Jakarta – Indonesia I have ever done.

2. DESCRIPTION OF WORK AND THE ORGANISATION
2.1 The organization
St. Gabriel Catholic Church is set by the Archdiocese of Jakarta on July 23, 1995 as a 51st parish in Jakarta, Indonesia. Through the motto “Gaudium Omnibus”, means enjoyment for people with expect that the occurrence of this parish can provide particularly good news for the people of the community surrounding the church. Historically, the Saint Gabriel church is the chapel of the Parish church of Saint Bonaventure in 1988. At the time, people listed as many as 439 people and parishes along the development process, the presence of people increased to 2811 people. Furthermore, officially Saint Gabriel became a Parish on 23 July 1995 by the Archbishop of Jakarta declaration number 1083/3.25.3/9.
In its organizational structure, there are two types organizational structures, such as:

a. Territorial
which is manageably small area housing a community of some people who registered, who lived, worked and worshipped together, with a church and a school at its center and a minister and a kirk session to attend to both its spiritual and its temporal necessities. The territorial organised by
– Chairman of the parish council,
– Vice chairman of the parish council,
– Parish Council Secretary,
– Treasurer of the parish council,
– Chairman of the parish youth,
– Chairman of the region,
– Chairman of the youth region.

b. Categorical
The religious service activity of Parish community. For instance:
– Bible study community
– Legion of Mary
– Elderly community
The community involved has an organitation structure that collaborates and supports each other.

In this organisation, I have involved as a Chairman of Youth community of the Parish of Saint Gabriel, Jakarta – Indonesia that has some of responsibilities such as:
– Thinking and coordinate youth group activities.
– Pursue funding and facilities to support the smooth coaching and development in the parish and parts of its territory.
– Responsible for the implementation of the youth group in the parishes and regions.
Make an annual accountability report and the incidental and financial performance of duties to the Board of the Parish Pastoral.

2.2 My Involvement
I have involved in this community from 2004 until 2007 (approximately + 10950 hours) as a Chairman of the parish youth. During the involvement, I have learned different experience such as:
– Sport competition organizer (2004)
– Organizer of the 40th days requiem mass of Pope John Paul II (8th may 2005).
– Organizer of the visit to the seminary (2006).
– Bible Camp organizer (2006).
– Journalistic workshop organizer (2007).
– Organizer of the pilgrimage to the cave Maria (2007).
– Bible Study group organizer (2004 – 2007).
– Christmas celebration organizer (2004 – 2007).
– Easter celebration organizer (2004 – 2007).
– Natural Disasters rescue team leader (2004 – 2007).
– Youth & Elderly mass organizer (2004 – 2007)

3. LEARNING OUTCOME

3.1 Developed an awareness of social justice issues and the economic and social effects of modern life.
The social issues that appear in the society seem to be the problem that no one can live without the others. The problem cannot be solved as the people are living in the varying level of economic and social. Some of them are living in the place, condition and environment that can allow them to do much but some are on the contrasting side. As this control, the involvement in the non-profit organization has allowed people to create fewer limitations between the two categories. Since it is a non-profit organization, the anxiety of being socially and economically stressed can be taken away in order to create a better social life, which stress on the better together.

3.2 Heightened awareness of the responsibility of individuals to the wider community
This volunteer helps me to realize to contribute our time and energy to the society, which are needed my support. Since, I am youthful to have an opportunity to help someone, who is still need my support. It is important to support the other while I can afford to do it.

3.3 Ethical, spiritual, professional and personal development
I might say that learn to share with others from youth in different background after doing this volunteer. The most appropriate regarding this personal reflecting is when I was on public as I am able to respect the others regardless of their background. The reason is because I have realised since I was attending the volunteer, which is involved to the community.

3.4 Business communication skills, information literacy and interpersonal skills
There will be a difference the first time as a volunteer at the church. While serving in this community, I have got many opportunities to interact with others, speak in front of people, and speech. I also get knowledge about the structures and procedures within the organization. Furthermore, I have the ability on how to organize, facilitate, and cooperate with the team.

3.5 Critical and analytical abilities.
These skills I have gained when I was joined with this community in 2004. Moreover, I realize the importance from the social work. Their purpose is to bring back the society for working together. The volunteer in St. Gabriel church served the community with their feeling as a volunteer, as their love their community.

4. REFLECTION
The Volunteering not only helps and benefits one’s community but, in a way, it benefits the volunteers themselves. For instance, I believe volunteering makes a person feel worthy, as if they’ve accomplished something because they made someone else’s life better or they made a change in their community somehow. Volunteering also shows that that person is generous, compassionate, and good-hearted, because he/she is kind enough to give up a few hours of their time and put it into their community. It also serves others without expecting to get anything out of their service. I believe that everyone should give back to their community because volunteering will make your community a more comforting and pleasing place to live in.

Tuhan tidak “Menyebabkan” namun Tuhan “Membiarkan”

Tuhan tidak pernah MENYEBABKAN kita susah, melainkan Tuhan MEMBIARKAN kita mendapatkan kesusahan yang disebabkan oleh kita sendiri.”

Tuhan itu Kasih, Maha Adil, Maha Kuasa serta Bijaksana yang berdasarkan pada sifat – sifatNya. Sungguh sangatlah mustahil bila Ia tidak berlaku sesuai sifatNya pada ciptaanNya, yakni Kita manusia. Akan tetapi Ia akan memberikan kebebasan(MEMBIARKAN) kepada kita untuk memilih antara yang baik sesuai dengan ajaranNya atau Jalan yang susah yang disebabkan oleh kita seraya melakukan segala laranganNya.

Seorang Ayah yang bijaksana, tentu saja tidak menentukan perjalanan hidup anak-anaknya. Seringkali kita alami suatu kasus dimana seorang anak yang menginginkan sesuatu yang tidak selaras dengan sang Ayah, namun sang Ayah “membiarkan” sang anak untuk mendapatkan keinginan yang berdampak positif atau mungkin berefek negatif. Akan tetapi perlu kita sadari bahwa efek yang dihadapi oleh sang anak, bukan berarti Ayah yang menyebabkan.

Mari kità renungkan pada awal penciptaannya (Kej 2 : 16-17) dimana Ia memperingatkan Adam untuk tidak memakan 1 buah dari ribuan yang ada. Akan tetapi Tuhan membiarkan Adam memakan buah tersebut yang menyebabkan Adam hanya hidup selama 930 tahun dan mati(Kej 5 : 5). Tuhan sendiri mempunyai maksud dalam menciptakan kita, manusia. Seperti tertulis dalam Kej 1 : 28 bahwa ” Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” Jadi, sudah sangatlah jelas bahwa Tuhan memberikan pedoman bagi kehidupan kita, namun Ia “membiarkan” kita memilih jalan hidup yang sesungguhnya.

Seperti contoh apa yang kita tahu sekarang ini. Dimana setiap negara mempunyai Badan Pertahanan Negara atau biasa disebut Tentara yang mempunyai fungsi dan tujuan untuk melindungi negara. Bukankah bila suatu negara diserang oleh negara lain, mereka(tentara) harus melindungi “mereka” dan juga negara mereka ? Sudah pasti mereka harus membunuh musuhnya sebelum mereka dibunuh bukan ?
Tuhan berfirman dalam Ulangan 5 : 17 bahwa “Jangan Membunuh” akan tetapi Tuhan “membiarkan” tentara untuk saling membunuh. Akan tetapi apa efek dari mereka yang menjalankan larangan-Nya ? Banyak sekali terdengar berita di TV, Radio, Internet tentang peperangan yang sudah merajalela, setelah kasus Osama bin Laden yang ditembak mati oleh Team 6 Navy Seals USA. Dan akan ada aksi balas dendam dari organisasi yang diketuai Osama bin Laden (AQAP) yang kita kenal Al-Qaeda. Entah akan sampai kapan pertikaian kelompok ini akan berakhir.

Kalau sudah semrawut seperti ini, apakah kita pantas menyatakan bahwa Tuhan yang “menyebabkan” semua ini ?
Alangkah indahnya bila kita yang dikaruniai oleh sebagian sifat Allah itu sendiri yakni, Kasih(1 Yoh 4 : 8), Bijaksana(1 Kor 1 : 30), Adil (Mzm 116 : 5) dapat menerapkannya semasa hidup kita.

Oleh sebab itu tempuhlah jalan orang baik, dan peliharalah jalan-jalan orang benar serta bertopanglah sesuai dengan ajaran-Nya. Karena orang benar akan mendiami tanah, dan orang yang tak bercelalah yang akan tetap tinggal di situ (Proverb 2 :20-21).

Tuhan memberkati.

Created by : Andreas Gregorius Alvin

Posted with WordPress for BlackBerry.

“Quo Vadis”

”KDBers (panggilan untuk peserta KDB-red) diharapkan bukan hanya sebagai event organizer, tetapi juga mampu menjadi kader yang berkarya sosial dalam iman.”

Orang Muda Katolik (OMK) sering merasa tidak percaya diri jika ingin merasul. Apakah mereka (OMK-red) sanggup dan mampu menjadi rasul di jaman modern ? Untuk menjawab pertanyaan tersebut Romo V. Rudi Hartono, Pr bersama Komunitas Palaga membentuk Kelompok Dua Belas Rasul (KDB). KDB merupakan kelompok OMK yang secara khusus dibina untuk menjadi tenaga trainer atau fasilitator yang siap merasul dalam kegiatan rohani maupun umum. Materi yang diberikan antara lain Pendalaman serta pemahaman tentang Kitab Suci, Spiritualitas, Psikologi, Public Speaking dan Outbound. Untuk menguji kemampuan peserta dari pembinaan ini maka diadakan acara bertajuk ”Ekspresikan Aksimu” pada penutupan KDB setelah selama 9 bulan sebelumnya mengikuti pelatihan. Acara yang bertajuk rekreatif, semi outbond namun serius diadakan pada hari Sabtu 20 September 2008 s/d Minggu 21 September 2008 bertempat di Bukit Pangrango – Desa Gadog, Puncak – Jawa barat. Diikuti oleh 50 OMK dari Paroki Santa Gabriel, Pulo Gebang dan 15 OMK dari Paroki Kalvari, Pondok Gede. ”KDBers (panggilan untuk peserta KDB-red) diharapkan bukan hanya sebagai event organizer tetapi juga mampu menjadi kader yang berkarya sosial dalam iman.”tutur salah satu penggerak acara ini. Bentuk ekpresi setelah mengikuti materi KDB diwujudkan dalam presentasi secara kelompok dengan Tema sebagai berikut : Aktualisasi diri melalui kerja (Laborem Excesen), Kaderisasi Aktivis Kategorial, Spiritualitas Pewarta Muda, Perhatian Orang Muda Katolik (OMK) terhadap Lingkungan Hidup dalam Konteks Pewartaan, Belajar dari Kasus Frankenstein dalam Teknologi, Sikap OMK melihat Gaya Hidup Penyuka Sesama Jenis, Sikap OMK menghadapi Pemilu 2009 dan Golput, dan Sikap OMK dalam Dialog Antar Umat Beragama.. Presentasi yang dibawakan oleh KDBers meliputi 3 unsur yaitu Kitab Suci (kelompok pertemuan iman), Spiritualitas (injil dikelola dengan iman), dan Ilmiah Reflektif (permenungan). Semua KDBers siap dengan bahan presentasinya masing-masing, karna presenter akan ditunjuk secara acak oleh kelompok lainnya. Setelah mereka selesai presentasi, Romo V. Rudi Hartono, Pr, Frater Aldo dan Margono yang ditunjuk sebagai tim pembahas akan memberikan komentar, dan ditutup dengan Ice Breaking oleh kelompok yang presentasi.
Pada hari minggu, KDBers diawali dengan kegiatan pengembangan kelompok dalam outbound sampai menjelang siang. Setelah selesai makan siang, Romo Rudi membuka sesion Pleno KDB. Dia bertanya pada KDBers “Quo Vadis KDB? Mau dibawa kemana arah pelayanan KDB?” Dalam penghujung Pleno tercatat bahwa KDBers akan menjadi kader dan mulai melayani dari teritorial terkecil (OMK Lingkungan/ Wilayah) hingga kemudian dapat melayani teritorial yang besar. Pembentuk tim Resource and Development juga dianggap penting guna menunjang kaderisasi KDB. Akhirnya misa perutusanlah yang menutup serangkaian acara KDB ini. Dalam misa diberikan secara simbolis pin sebagai identitas KDBers dan sertifikat sebagai tanda kelulusan mereka mengikuti serangkaian kursus. Seperti kata Yesus dalam Kitab Markus (6:7), “Ia memanggil kedua belas murid itu dan mengutus mereka berdua-dua.” diharapkan OMK yang sudah mengikuti KDB ini tetap dekat dengan “altar”, tetapi juga harus berani menjauhi “altar” yakni ketika sedang menghayati “tugas & perutusan” bukan hanya dalam teritorial gereja saja, namun tugas & perustusan dapat berjalan ditempat dimana Yesus sama sekali belum

“Violence Will Not Lead to Peace and Justice”

200px-bentoxvi-30-100520071 Holy See on Israeli-Gaza Conflict
“Violence Will Not Lead to Peace and Justice”

GENEVA, Switzerland, JAN. 12, 2009 (Zenit.org). – Here is the address Archbishop Silvano Tomasi, the Holy See’s permanent observer at the U.N. offices in Geneva, delivered last Friday regarding the situation of the conflict in the Gaza Strip.
* * *
Mr. President,
The Delegation of the Holy See would like to express its solidarity with both the people in Gaza, who are dying and suffering because of the ongoing military assault by the Israeli Defense Forces, and the people in Sderot, Ashkelon and other Israeli cities who are living under the constant terror of rocket attacks launched by Palestinian militants from within the Gaza Strip, which have caused casualties and wounded a number of people.
The patriarchs and heads of churches of Jerusalem marked last Sunday as a day of prayer with the intention to put an end to the conflict in Gaza and to restore peace and justice in the Holy Land. It is their conviction that the continuation of bloodshed and violence will not lead to peace and justice but breed more hatred and hostility and thus a continued confrontation between the two peoples. These religious leaders call upon both parties to return to their senses and refrain from all violent acts, which only bring destruction and tragedy. They urge them instead to work to resolve their differences through peaceful and nonviolent means.
The Holy Father, Benedict XVI, underlined last Sunday that the refusal of dialogue between the parties has led to unspeakable suffering for the population in Gaza, victims of hatred and war.
Mr. President, it is evident that the warring parties are not able to exit from this vicious circle of violence without the help of the international community that should therefore fulfill its responsibilities, intervene actively to stop the bloodshed, provide access for emergency humanitarian assistance, and end all forms of confrontation. At the same time, the international community should remain engaged in removing the root causes of the conflict that can only be resolved within the framework of a lasting solution of the greater Israeli-Palestinian conflict, based on the international resolutions adopted during the years.
May I conclude with the words of Pope Benedict XVI pronounced yesterday during the annual meeting with diplomats accredited to the Holy See: “Once again I would repeat that military options are no solution and that violence, wherever it comes from and whatever form it takes, must be firmly condemned. I express my hope that, with the decisive commitment of the international community, the ceasefire in the Gaza Strip will be re-established — an indispensable condition for restoring acceptable living conditions to the population — and that negotiations for peace will resume, with the rejection of hatred, acts of provocation and the use of arms.”
Thank you Mr. President

Sejarah Gereja

pic_0461Peristiwa Penting dalam Sejarah Gereja
(setelah wafatnya Kristus)

33 M Peristiwa Pantekosta pertama, turunnya Roh Kudus ke atas para rasul. Santo Petrus berkhotbah di Yerusalem; 3000 orang dibaptis menjadi komunitas Kristen yang pertama. Santo Stefanus, deakon, dirajam dengan batu sampai mati di Yerusalem. Dia dihormati sebagai martir Kristen yang pertama.

34 M Santo Paulus, yang sebelumnya dikenal sebagai Saulus, penindas umat Kristen, bertobat dan dibaptis. Setelah tiga tahun hidup sendirian di gurun, dia bergabung dengan kelompok para Rasul. Dia melakukan tiga perjalanan misionaris utama dan dikenal sebagai Rasul bagi kaum non-Yahudi. Dia dipenjarakan dua kali di Roma dan dipenggal disana antara tahun 64-67.

39 M Kornelius, orang Yunani, dan keluarganya dibaptis oleh Santo Petrus, sebuah kejadian penting yang melambangkan misi Gereja kepada segenap manusia.

42 M Penindasan umat Kristen di Palestina terjadi pada pemerintahan raja Herodes Agrippa. Santo Yakobus bin Zebedeus, rasul pertama yang terbunuh menjadi martir, dipenggal kepalanya pada tahun 44. Santo Petrus dipenjarakan untuk beberapa waktu. Banyak umat Kristen melarikan diri ke Antiokia, menandakan awal dari penyebaran Kristen melampaui batas-batas wilayah Palestina. Di Antiokia, para pengikut Kristus untuk pertama kalinya disebut dengan sebutan Kristen.

49 M Umat Kristen di Roma, yang waktu itu dianggap sebagai bagian dari sekte Yahudi, sangat terpukul oleh dekrit yang dikeluarkan oleh kaisar Claudius yang isinya melarang ibadat Yahudi di sana.

51 M Konsili Yerusalem, dimana semua Rasul hadir dibawah pimpinan Santo Petrus, menyatakan bahwa sunat, aturan makanan, dan berbagai peraturan hukum Musa tidak diharuskan bagi kaum non-Yahudi yang menjadi Kristen. Dekrit yang penting ini dikeluarkan sebagai reaksi atas kaum Yahudi-Kristen yang memaksa bahwa umat Kristen harus mengikuti aturan hukum Musa untuk diselamatkan.

64 M Penindasan dimulai di Roma dibawah caesar Nero, dimana sang caesar memulai kebakaran yang menghanguskan setengah kota Roma, lantas memfitnah umat Kristen.

64 – 67 M Santo Petrus wafat sebagai martir di kota Roma selama penindasan oleh Nero. Dia mendirikan keuskupan di sana dan menghabiskan tahun-tahun terakhirnya disana setelah berkhotbah di Yerusalem, mendirikan keuskupan di Antiokia, dan memimpin Konsili Yerusalem.

70 Penghancuran kota Yerusalem oleh Titus

88 – 97 Masa jabatan Paus Santo Clement I, penerus ketiga setelah Petrus sebagai Uskup Roma. Beliau adalah salah satu Bapa Apostolik Gereja. Surat Pertama kepada umat di Korintus, ditulis oleh Gereja di Roma kepada Gereja di Korintus, untuk menyelesaikan persengketaan penyingkiran Uskup yang sah di Korintus. Caesar Domitian menindas umat Kristen, terutama di kota Roma.

100 Wafatnya Santo Yohanes, Rasul dan Evangelis, menandai berakhirnya jaman Para Rasul dan generasi pertama Gereja. Pada akhir abad tersebut, Antiokia, Alexandria, Efesus di Timur, dan Roma di Barat, semuanya telah merupakan pusat populasi Kristen dan pengaruh Kristen.

107 Santo Ignatius dari Antiokia menjadi martir di Roma. Dia adalah penulis Kristen pertama yang menggunakan kata “Gereja Katolik”

112 Caesar Trajan, dalam jawabannya terhadap Pliny, gubernur wilayah Bithynia, memerintahkannya untuk tidak mengejar umat Kristen, tetapi menghukum mereka jika mereka menolak untuk menghormati dewa-dewa Romawi di hadapan umum. Jawaban resmi ini menjadi standar perlakuan magistrat Romawi dalam berurusan dengan umat Kristen.

117-138 Penindasan dibawah kaisar Hadrian. Banyak dari Kisah-kisah para martir berasal dari periode ini.

125 Penyebaran ajaran Gnostikisme, suatu kombinasi dari ajaran filosofi Plato dan agama-agama misterius dari Timur. Para pengikutnya mengaku bahwa prinsip-prinsip pengetahuan yang rahasia memberikan pemahaman yang lebih mendalam dibandingkan dengan wahyu Ilahi dan iman. Salah satu tema Gnostik, menyangkal ke-Allah-an Yesus, sementara yang lainnya menyangkal kemanusiaan Yesus, dan menganggapnya hanya penampilan belaka. (Docetisme, Fantasiaisme)

144 Pengucilan Marcion, uskup dan penyeleweng ajaran iman, yang mengaku bahwa Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru sama sekali bertolak belakang dan tidak berhubungan sama sekali, dan bahwa tidak ada hubungan antara Allah orang Yahudi dan Allah orang Kristen, dan bahwa Kanon Alkitab hanya terdiri dari sebagian Injil Lukas dan 10 surat-surat Santo Paulus. Marcionisme berhasil diatasi oleh Roma pada tahun 200 dan dikutuk oleh konsili di Roma pada tahun 260, tetapi penyelewengan ini masih muncul hingga beberapa abad di wilayah Timur dan masih punya pengikut hingga Abad Pertengahan.

155 Santo Polycarp, Uskup Smyrna dan murid Santo Yohanes Penginjil, wafat sebagai martir.

156 Mulai munculnya Montanisme, semacam ekstrimisme religius. Ajaran-ajarannya terutama adalah kedatangan Yesus yang kedua kalinya, penyangkalan terhadap kekudusan Gereja dan kuasa untuk mengampuni dosa, dan moralitas religius yang berlebihan. Penyelewengan ini yang dipimpin oleh Montanus dari Phrygia dan yang lain-lain, dikutuk oleh Paus Santo Zephyrinus (199-217)

161-180 Masa pemerintahan Marcus Aurelius. Penindasan olehnya yang dimulai setelah terjadinya bencana-bencana alam, lebi kejam dibanding para pendahulunya.

165 Santo Justinus, salah satu penulis penting Gereja perdana, menjadi martir di Roma.

180 Santo Irenaeus, Uskup Lyons dan salah satu teolog besar masa itu, menulis Adversus Haereses (Melawan Para Penyeleweng/kaum heretiks). Dia menyatakan bahwa ajaran dan tradisi oleh Tahta Roma adalah standar bagi kepercayaan Kristen.

196 Kontroversi menyangkut tanggal perayaan Paskah – hari Minggu, menurut tradisi Barat, atau tanggal 14 dari bulan Nisan (dalam kalender Yahudi), tidak peduli hari apa, sesuai praktek di Timur. Kontroversi ini tidak selesai pada saat itu. Didache, adalah rekaman penting kepercayaan Kristen, praktek ibadat dan pemerintahan, pada abad pertama. Bahasa Latin diperkenalkan sebagai salah satu bahasa liturgi di Barat. Bahasa-bahasa liturgi lainnya adalah Aram dan Yunani. Sekolah Katekis Alexandria, didirikan di pertengahan abad kedua, memperluas pengaruhnya menyangkut pelajaran doktrin dan instruksi dan interpretasi/penafsiran Alkitab.

202 Penindasan terhadap umat Kristen oleh kaisar Septimius Severus yang ingin mendirikan satu agama sederhana yang sama di seluruh wilayah kekaisaran.

206 Tertulianus, yang masuk agama Katolik sejak tahun 197 dan merupakan penulis Gerejawi besar yang pertama dari tradisi Latin, bergabung dengan kaum pembangkang Montanis. Dia meninggal pada tahun 230

215 Meninggalnya Santo Clement dari Alexandria, guru dari Origen dan bapa pendiri sekolah teologi Alexandria.

217-235 Santo Hippolytus, sang anti-paus pertama. Dia bersatu kembali dengan Gereja sewaktu berada dalam penjara selama penindasan tahun 235.

232-254 Origen mendirikan Sekolah Teologi di Kaisarea setelah mengalami pembuangan di tahun 231 sebagai kepala sekolah Alexandria. Dia meninggal di tahun 254. Dia adalah seorang pakar dan penulis yang menghasilkan banyak karya tulis. Dia adalah salah seorang pendiri teologi sistematik dan membawa pengaruh yang luas selama waktu yang lama.

242 Manicaeisme muncul di Persia, adalah kombinasi beberapa kesalahan ajaran yang berasumsi bahwa dua prinsip utama (kebaikan dan kejahatan) bekerja dalam karya penciptaan dan kehidupan, dan bahwa tujuan utama dari perjalanan manusia adalah pembebasan dari kejahatan (materi). Ajaran ini menyangkal kemanusiaan Kristus, sistem sakramental, otoritas Gereja (dan negara), dan mendukung suatu tata moral yang mengancam ketentraman sosial. Pada abad ke-12 dan ke-13, ajaran ini muncul kembali sebagai Albigensianisme dan Katharisme.

249-251 Penindasan oleh Decius. Banyak diantara orang-orang yang murtad selama penindasan, memohon untuk diterima kembali oleh Gereja pada tahun 251. Sri Paus Santo Kornelius setuju dengan Santo Cyprianus bahwa kaum lapsi (orang-orang yang murtad) ini diterima kembali kedalam Gereja setelah memenuhi persyaratan penitensi yang telah ditentukan. Dilain pihak, anti-paus Novatianus bersikeras bahwa orang-orang yang murtad dari Gereja selama penindasan dan/atau mereka yang bersalah atas dosa berat setelah pembaptisan tidak dapat dimaafkan dan diterima kembali dalam persekutuan dengan Gereja. Ajaran salah ini ditolak keras oleh Synod Romawi pada tahun 251.

250-300 Neo-Platonisme oleh Plotinus dan Porphyry bertambah pendukungnya

251 Novatianus, sang anti-paus, dikecam di Roma.

256 Sri Paus Santo Stefanus I menerima validitas pembaptisan yang dilakukan secara sebagaimana mestinya, meskipun dilakukan oleh kaum penyeleweng Gereja, dalam dokumen Kontroversi Pembaptisan-ulang.

257 Penindasan terhadap umat Kristen oleh kaisar Valerianus, yang berusaha menghancurkan Gereja sebagai suatu struktur sosial.

258 Santo Cyprianus, Uskup Kartago, menjadi martir.

260 Santo Lucianus mendirikan Sekolah Teologi Antiokia, sebuah pusat studi Alkitab yang berpengaruh. Sri Paus Santo Dionisius mengecam Sabellianisme, yang serupa dengan Modalisme (seperti juga Monarchianisme dan Patripassianisme). Ajaran sesat ini menyatakan bahwa Bapa, Putera, dan Roh Kudus bukanlah personifikasi Allah yang berbeda, tetapi adalah tiga mode dan manifestasi-diri oleh Allah yang satu. Santo Paulus dari Thebes menjadi pertapa.

261 Gallienus mengeluarkan dekrit toleransi yang mengakhiri secara umum penindasan yang berlangsung selama 40 tahun.

292 Diocletianus membagi Kekaisaran Romawi menjadi Timur dan Barat. Pembagian tersebut memperkuat perbedaan-perbedaan politik, kultur, dan lain-lainnya antara dua bagian Kekaisaran dan selanjutnya mempengaruhi perkembangan yang berbeda dalam Gereja di Timur dan di Barat. Prestise Roma mulai menurun.

303 Penindasan dilanjutkan oleh Diocletianus. Penindasan ini mencapai puncaknya pada tahun 304.

305 Santo Antonius dari Heracles mendirikan yayasan bagi para biarawan-pertapa di dekat Laut Merah, Mesir.

306 Peraturan lokal yang pertama menyangkut hidup selibat religius diberlakukan oleh sebuah konsili yang dilaksanakan di Elvira, Spanyol. Para uskup, imam, deakon dan para pelayan lainnya dilarang untuk memiliki istri.

311 Suatu dekrit toleransi dikeluarkan oleh Galerius atas desakan Konstantinus Agung dan Licinius secara resmi mengakhiri penindasan terhadap umat Kristen di Barat. Masih terjadi penindasan di wilayah Timur.

313 Dekrit Milan dikeluarkan oleh Konstantinus dan Licinius, mengakui agama Kristen sebagai agama yang sah dalam wilayah kekaisaran Romawi.

314 Suatu konsili di Arles mengutuk Donatisme, dan menyatakan bahwa pembaptisan yang dilakukan oleh para penyeleweng Gereja sebagai sah, dengan pertimbangan pada prinsip sakramen yang mendapatkan efektivitasnya dari Kristus, bukan dari kondisi spiritual sang pelayan iman. Ajaran sesat ini (Donatisme) kembali dikutuk oleh konsili yang dilaksanakan di Kartago pada tahun 411.

318 Santo Pachomius mendirikan dasar pertama dari hidup senobis (bersama), kebalikan dari hidup soliter para pertapa di wilayah Mesir utara.

325 Konsili Ekumenikal Nikea I. Keputusannya yang terutama adalah pengutukan terhadap ajaran Arianisme, salah satu ajaran sesat yang paling membahayakan Gereja, yaitu yang menyangkal ke-Allahan Yesus. Heresi ini ditimbulkan oleh Arius dari Alexandria, seorang imam. Kaum Arian dan beberapa variasinya mempropagandakan ajaran mereka secara luas dan mendirikan hirarki gerejawi sendiri dan menimbulkan kegoncangan di dalam Gereja selama beberapa abad. Konsili ini turut berperan dalam formulasi Kredo Nikea (Syahadat Nikea-Konstantinopel). Hasil-hasil lainnya dari konsili Nikea I adalah tanggal perayaan Paskah yang tetap (tidak berubah-ubah), dan dikeluarkannya peraturan-peraturan disiplin untuk para imam, dan mengadopsi pemisahan sipil wilayah kekaisaran sebagai model bagi organisasi yurisdiksi dalam tubuh Gereja.

326 Dengan dukungan dari Santa Helena, ibunda kaisar Konstantinus, Salib Benar yang digunakan untuk menyalibkan Kristus ditemukan.

337 Peristiwa pembaptisan dan wafatnya kaisar Konstantinus.

342 Dimulainya masa penindasan 40 tahun di wilayah Persia.

343-344 Konsili Sardica menguatkan doktrin yang diformulasikan oleh konsili Nikea I dan juga menyatakan bahwa para Uskup memiliki hak petisi kepada Sri Paus sebagai otoritas tertinggi dalam Gereja.

361-363 Kaisar Julianus yang murtad, melancarkan kampanye yang gagal melawan Gereja dalam usahanya untuk mengembalikan paganisme sebagai agama resmi kekaisaran.

365 Penindasan terhadap kaum Kristen ortodoks oleh Kaisar Valens di wilayah Timur.

376 Permulaan invasi oleh kaum barbar di wilayah Barat.

379 Wafatnya Santo Basil, Bapa Monastisisme (hidup membiara) di Timur. Tulisan-tulisannya memberi sumbangan besar bagi perkembangan tata aturan hidup kaum religius.

381 Konsili Ekumenikal Konstantinopel I. Konsili ini mengecam berbagai variasi Arianisme, termasuk juga Macedonianisme, yang menyangkal ke-Allahan Roh Kudus. Konsili ini turut berperan dalam formulasi Kredo Nikea, menyetujui suatu kanon yang mengakui Konstantinopel sebagai Tahta kedua setelah Roma dalam hal wibawa dan kehormatan.

382 Penentuan Kanon Kitab Suci, yaitu daftar resmi kitab-kitab yang dinyatakan sebagai wahyu Allah dalam Alkitab, dalam Dekrit Sri Paus Santo Damasus dan dipublikasikan oleh Konsili regional di Kartago pada tahun 397. Kanon tersebut didefinisikan secara resmi oleh Konsili Trente pada abad ke-16.

382-406 Santo Yeremia menterjemahkan Kitab-kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru ke dalam bahasa Latin. Hasil karyanya disebut sebagai Alkitab versi Vulgata.

410 Kaum Visigoth dibawah pimpinan Alaric memporak-porandakan kota Roma. Bala-tentara Romawi yang terakhir meninggalkan wilayah Inggris. Menurunnya kekaisaran Romawi kira-kira sejak masa ini.

430 Wafatnya Santo Agustinus yang menjabat sebagai Uskup Hippo selama 35 tahun. Dia adalah pendukung kuat doktrin-doktrin yang ortodoks terhadap Manicaeisme, Donatisme, Pelagianisme. Tulisan-tulisannya yang mendalam dan meliputi aspek yang luas membuatnya sebagai pengaruh yang dominan dalam pemikiran Kristen selama berabad-abad.

431 Konsili Ekumenikal Efesus. Konsili ini mengutuk Nestorianisme, ajaran sesat yang menyangkal persatuan sifat keAllahan dan kemanusiaan dalam Kristus. Konsili ini mendefinisikan gelar Maria sebagai Theotokos (Pembawa Allah), juga gelar Bunda Putera Allah yang menjadi Manusia, dan mengutuk Pelagianisme. Ajaran sesat Pelagianisme, bermula dari asumsi bahwa Adam memiliki hak alami terhadap hidup supernatural, berpegang bahwa manusia bisa mendapatkan penyelamatan lewat usaha-usaha dari kekuatannya yang alami dan kehendak bebas. Ajaran ini meliputi kesalahan terhadap pemahaman dosa asa, makna dari rahmat dan hal-hal lainnya. Variasi ajaran Pelagianisme lainnya juga dikutuk oleh sebuah konsili di Orange pada tahun 529.

432 Santo Patrick tiba di Irlandia. Pada saat wafatnya di tahun 461, nyaris seluruh negeri itu telah memeluk Katolik, didirikannya banyak biara-biara dan terbentuknya hirarki Gereja di sana.

438 Peraturan Theodosian, suatu kompilasi dekrit-dekrit bagi kekaisaran, yang dikeluarkan oleh Theodosius II. Peraturan ini membawa pengaruh besar bagi perundang-undangan sipil dan gereja.

451 Konsili Ekumenikal Kalsedon. Keputusan utamanya yaitu pengutukan ajaran sesat Monofisit (yang juga disebut Eutisianisme), yang menyangkal kemanusiaan Kristus dengan berpegang bahwa Yesus hanya memiliki satu sifat, yaitu keAllahannya.

452 Sri Paus Santo Leo Agung membujuk Atilla pemimpin orang-orang Hun untuk membiarkan kota Roma.

455 Kaum gerombolan penyerang dibawah pimpinan Geiseric memporak-porandakan kota Roma.

484 Patriark Acacius dari Konstantinopel di-ekskomunikasi setelah dia menanda-tangani Henoticon, suatu dokumen yang berisi pengakuan (kapitulasi) terhadap ajaran sesat Monofisit. Ekskomunikasi ini memicu Skisma Acacian yang berlangsung selama 35 tahun.

494 Sri Paus Santo Gelasius I menyatakan dalam suratnya kepada Kaisar Anastasius bahwa seorang Paus memiliki kuasa dan otoritas melebihi seorang kaisar dalam hal-hal spiritual.

496 Clovis, Raja Franks, memeluk agama Katolik dan menjadi pembela Kristen di wilayah Barat. Rakyat Franks menjadi pemeluk Katolik.

520 Biara-biara di Irlandia berkembang pesat sebagai pusat kehidupan spiritual, pelatihan para misionaris, dan kegiatan akademis lainnya.

529 Konsili Orange II mengutuk semi-Pelagianisme.

529 Santo Benediktus mendirikan Biara Monte Cassino. Beberapa tahun sebelum ia wafat di tahun 543 dia menulis peraturan hidup membiara yang membawa pengaruh besar dalam pembentukan formasi dan tata-cara kehidupan religius. Dia dipanggil sebagai Bapa Monastisisme (kehidupan membiara) dari Barat.

533 Yohanes II menjadi Paus pertama yang mengganti namanya. Praktek ini tidak menjadi tradisi sampai masa Sergius IV (tahun 1009).

533-534 Kaisar Justinianus mewartakan Corpus Iuris Civilis kepada seluruh Romawi. Seperti juga perundangan Theodosian, perundangan ini selanjutnya juga mempengaruhi hukum sipil dan gereja.

545 Wafatnya Dionisius Exiguus yang merupakan orang pertama yang melakukan penanggalan sejarah sejak kelahiran Kristus, yang nantinya menghasilkan penggunaan singkatan BC (sebelum Kristus) dan AD (sesudah Kristus). Perhitungannya setidaknya telat 4 tahun.

553 Konsili Ekumenikal Konstantinopel II. Konsili ini mengutuk Tiga Pasal, suatu tulisan yang berbau ajaran sesat Nestorianisme, oleh Theodore dari Mopsuestia, Theodoret dari Sirus dan Ibas dari Edessa.

585 Santo Columban mendirikan sebuah sekolah biara yang berpengaruh di Luxeuil.

589 Konsili Toledo, satu yang terpenting diantara beberapa konsili yang diadakan disana. Kaum Visigoth menolak Arianisme dan Santo Leander mulai pengorganisasian Gereja di Spanyol.

590-604 Masa jabatan Sri Paus Santo Gregorius I Agung. Dia menetapkan format dan gaya kepausan yang terus bertahan hingga abad pertengahan. Dia membawa pengaruh yang besar terhadap doktrin dan liturgi. Dia juga adalah pendukung berat disiplin kehidupan membiara dan selibat religius. Tulisannya yang banyak mencakup banyak topik. Lagu Gregorian disebut demikian sebagai penghormatan terhadapnya.

597 Wafatnya Santo Columba. Dia mendirikan sebuah biara penting di Iona, mendirikan banyak sekolah-sekolah dan melakukan karya misionaris yang menonjol di Skotlandia. Pada akhir abad itu, biara-biara bagi kaum wanita sudah banyak terdapat. Monastisisme di Barat berkembang pesat sementara monastisisme di Timur, dibawah pengaruh Monofisit dan faktor-faktor lainnya, mulai kehilangan semangatnya.

613 Santo Columban mendirikan biara yang berpengaruh di Bobbio di Italia utara. Dia meninggal disana pada tahun 615.

622 Perjalanan Muhammad dari Mekah ke Media menandai awal mula Islam, yang menjelang akhir abad itu telah meliputi nyaris seluruh wilayah selatan Timur Tengah.

628 Heraclius, Kaisar Romawi Timur, merebut Salib Benar dari orang-orang Persia.

649 Konsili Lateran mengutuk dua rancangan (Ecthesis dan Type) yang dikeluarkan oleh kaisar Heraclius dan Konstans II sebagai cara untuk menyatukan kaum Monofisit dengan Gereja.

664 Tindakan-tindakan Sinod Whitby mendorong pemakaian tradisi Latin di wilayah Inggris, terutama menyangkut perayaan Paskah.

680-681 Konsili Ekumenikal Konstantinopel III. Konsili ini mengutuk Monotelitisme, yang menyatakan bahwa Kristus hanya memiliki satu kehendak, ke-Allahannya. Konsili juga mengkritik Sri Paus Honorius I atas suratnya kepada Sergius, Uskup Konstantinopel, dimana dia membuat pernyataan yang kurang jelas, tetapi bukan suatu pernyataan yang sifatnya infalibel, tentang kesatuan kehendak/karya dalam Kristus.

692 Sinod Trullan. Penetapan disiplin selibat religius dalam Gereja Timur yang membolehkan perkawinan sebelum pentahbisan menjadi deakonat, tetapi melarang perkawinan setelah meninggalnya istri yang bersangkutan. Kanon-kanon anti-Roma turut menyumbang munculnya jurang pemisah antara Timur-Barat. Selama abad ini, pengaruh monastisisme Irlandia dan Inggris bertambah besar di Eropa Barat. Sekolah-sekolah dan pengajaran berkurang. Peraturan-peraturan menyangkut hidup selibat menjadi diperketat di Timur.

711 Kaum Muslim menduduki wilayah Spanyol

726 Kaisar Leo III – orang Isauria – melancarkan kampanye melarang penghormatan terhadap gambar/patung religius dan relikwi. Tindakan ini disebut ikonolasma (penghancuran rupa) dan mengakibatkan timbulnya kekacauan di Timur sampai sekitar tahun 843

731 Sri Paus Gregorius III dan sebuah sinod di Roma mengutuk ikonoklasma, dengan sebuah pernyataan bahwa penghormatan gambar/patung religius sesuai dengan tradisi Katolik

732 Charles Martel mengalahkan pasukan Muslim di Poitiers, dan menghambat majunya pasukan mereka di Barat.

744 Biara Fulda didirikan oleh St.Sturmi, seorang murid Santo Bonifacius. Biara ini sangat berpengaruh dalam evangelisasi di Jerman.

754 Suatu konsili yang didukung oleh 300 uskup-uskup Bizantium mendukung bidaah ikonoklasma. Konsili ini dan keputusannya dikutuk oleh sinod Lateran pada tahun 769. Stephen II (III) dimahkotai sebagai pemimpin Pepin dari kaum Franks. Pepin dua kali menginvasi Italia di tahun 754 dan 756, untuk membela Sri Paus terhadap serangan orang-orang Lombard. Dia menghadiahkan tanah kepada kepausan yang disebut Sumbangan Pepin, dan nantinya diperluas oleh Charlemagne (773) dan menjadi bagian dari negara-Gereja

755 Santo Bonifacius (Windrid) menjadi martir. Dia disebut sebagai Rasul dari Jerman karena karya misionarisnya dan pengorganisasian dari hirarki gereja disana.

781 Alcuin dipilih oleh Charlemagne untuk mengorganisasikan sebuah sekolah istana yang menjadi pusat kepemimpinan intelektual

787 Konsili Ekumenikal Nikea II. Konsili ini mengutuk bidaah ikonoklasma – yang menuduh penghormatan terhadap gambar religius sebagai tindakan penyembahan berhala – juga mengutuk bidaah Adopsionisme yang menyatakan bahwa Kristus bukan Putera Allah secara alami, tetapi melalui adopsi. Konsili ini adalah konsili terakhir yang dianggap ekumenikal oleh Gereja Ortodoks.

792 Konsili di Ratisbon mengutuk bidaah Adopsionisme.

800 Charlemagne dimahkotai sebagai kaisar oleh Sri Paus Leo III pada hari Natal. Egbert menjadi raja Sakson Barat. Dia mempersatukan Inggris dan memperkuat Tahta Canterburry.

813 Kaisar Leo V, orang Armenia, membangkitkan kembali bidaah ikonoklasma, yang bertahan hingga tahun 843

814 Kaisar Charlemagne wafat.

843 Perjanjian Verdun membagi kerajaan Franks bagi tiga cucu-cucu laki-laki Charlemagne.

844 Kontroversi Ekaristi yang melibatkan tulisan-tulisan St.Paskasius Radbertus, Ratramnus dan Rabanus Maurus mendorong perkembangan terminologi menyangkut doktrin Kehadiran Sejati.

846 Pasukan Muslim menginvasi Italia dan menyerang kota Roma.

848 Konsili Mainz mengutuk Gottshalk atas ajaran bidaah mengenai predestinasi. Gottschalk juga dikecam oleh Konsli Quierzy tahun 853.

857 Photius menggeser keduduk Ignatius sebagai Patriarck Konstantinopel. Ini menandai awal mula Skisma Photius, suatu keadaan yang tidak menentu antara hubungan Timur-Barat yang belum diklarifikasi lewat riset historis. Photius, orang yang hebat, wafat tahun 891.

865 Santo Ansgar, rasul bagi Skandinavia, wafat.

869 Santo Siril wafat dan saudaranya Santo Metodius (wafat 885) diangkat sebagai uskup. Rasul-rasul bagi Skandinavia membuat suatu sistem alfabet dan menterjemahkan Injil dan liturgi kedalam bahasa Slavia.

869-870 Konsili Ekumenikal Konstantinopel IV. Konsili ini mengeluarkan kecaman kedua terhadap Ikonoklasma, dan mengecam dan menggulingkan Photius dari kedudukan sebagai Patriark Konstantinopel dan mengembalikan Ignatius sebagai Patriark. Ini adalah konsili ekumenikal terakhir yang diadakan di Timur. Pertama kali disebut ekumenikal oleh para kanonis menjelang akhir abad ke-11.

871-900 Masa pemerintahan Alfred Agung, satu-satunya raja Inggris yang pernah diurapi oleh seorang Paus di Roma.